Ada dua hari yang terlewat dari catatan kemarin. 2 hari di Jogjakarta yang hanya dilalui dibalik dinding dinding kamar hotel. 2 hari yang terlalu indah jika dilewatkan.
Sesungguhnya, berdiam dikamar hotel tanpa mrlakukan sesuatu adalah yang yang yidak akan pernah terlintas ketika berkunjung ke Jogjakarta.
Melewatkan 31 candi yang belum dikunjungi, situs situs sejarah yg belum dijamah, serta begitu banyak sudut2 kota yang belum dijelajahi.
Tapi qadarullah Fawwaz demam tinggi mulai malam hari selepas kita mengunjungi kotagede. Serta mencari cari blangkon warna merah yang belum juga ditemui. Panasnya tinggi mencapai 39°C. Hingga menggigil sepanjang hari.
Dengan sukarela dan penuh ketulusan Ghazy melepaskan rencana nya untuk berenang di pantai. Demi menemani Fawwaz di kamar.
2 hari didalam kamar bukan tsnpa cerita.
Dari situ kami belajar tentang ketulusan, kasih sayang antara anggota keluarga. Tidak penting lagi rencana2 yang sudah dipersiapkan. Tidak penting lagi semua keindahan dan rayuan kota Jogja. Yang kami rindukan hanya gelak tawa dan canda dari Fawwaz kecil yang sedang terbaring menahan sakit.
Disitulah kami belajar trntang keutuhan sebuah keluarga dalam menghadapi masalah bersama. Bahwa itulah saatnya kami mengenyampingkan keperluan dan keinginan pribadi demi melayani anggota keluarga lain yang sedang membutuhkan pelayanan.
Mama yang mendampingi dan merawat Fawwaz, kakak yang selalu siap membantu mama. Kakak juga yang selalu menghibur Fawwaz agar kembali ceria. Semua hanya fokus pada kesembuhan Fawwaz.
Alhamdulillah, hari kedua sore hari Fawwaz telah segar, sehat, ceria seperti sedia kala.
#tripeducation
#HEbAT






0 komentar:
Posting Komentar